Sunday, August 30, 2026

242 / 365 (Menuju sepertiga akhir 2026)

 Jika melihat sepuluh tahun kebelakang, sudah begitu banyak yang dilalui, tahun ini saya berusia 30 tahun. Usia yang dulu saya anggap sudah termasuk tua. Tapi ketika masuk di usia ini, saya merasa masih seperti orang yang masih mencari dirinya sendiri.

2016, satu dekade lalu, ketika saya masih menikmati hidup, ketika pikiran masih dipenuhi mimpi dan teka teki akan bagaimana masa depan yang akan saya jalani nanti. Sebenarnya saya cukup realistis, mungkin kerja di bank, atau S2 ke luar negeri dengan beasiswa. Keduanya tidak terjadi. 

Keinginan untuk ke luar negeri itu sangat besar pada waktu itu, dan secara mengejutkan takdir membawa saya ke negara Turki. Sepuluh tahun kemudian, saya sudah ke beberapa negara. Dan ternyata, tidak seindah yang saya bayangkan.

Sepuluh tahun lagi, 2036, jika diberi umur panjang, saya berusia 40 tahun. Usia yang sekarang saya anggap tua sebenarnya. Saya penasaran apakah nanti ketika benar-benar mencapai usia tersebut, saya masih merasa usia 40 tahun itu tua, atau mungkin 40 nanti bagi saya adalah the new 30 tahun.

Kemana waktu akan membawa saya sepuluh tahun kemudian, petualangan apa yang akan saya jalani. Mungkin di usia 30an hidup saya akan membosankan? Semua akan terjawab 10 tahun dari sekarang.


Saturday, January 3, 2026

3/365 (Perang Dunia ke 4)

3 Januari 2026

Saat ini ditulis, berita dihebohkan dengan penangkapan presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat. Baru saja mulai tahun 2026 sudah ada keributan baru di dunia.

Pemimpin pemimpin dunia banyak yang mengecam apa yang dilakukan Amerika. Tapi kecaman hanyalah kecaman, agaknya para pemimpin di suatu negara ini sangat hobi mengumbar kecaman, tapi hanya sampai disitu.

Sejak selesainya perang dunia ke 2 di tahun 1945. Apakah mereka yang hidup di jaman itu mengira peperangan benar-benar berakhir? Atau hanya tertunda.

Hingga awal 2026, banyak spekulasi tentang perang dunia ke 3 akan terjadi. Tapi tanpa sadar bahwa perang dunia ke 3 sudah terjadi sejak lama. Hanya saja bersifat sporadis. Israel vs Palestina, Ukraina vs Rusia, Amerika vs Iran, Azerbaijan vs Armenia dan banyak lagi. 

Bahkan baru baru ini terjadi perang kecil di perbatasan  Thailand dan Kamboja. 

Tentu banyak yg akan membantah bahwa itu tidak bisa dibilang perang dunia. Karena seluruh dunia bersepekat bahwa perang yang terjadi itu harus melibatkan banyak pihak.

Meskipun tidak terlibat mengangkat senjata, tapi negara yang ‘tidak berperang’ tentu punya perang masing-masing. Embargo, suplai senjata, mengumbar ‘kecaman’.

Dengan perkembangan teknologi yang ada sekarang, senjata pemunah masal bukan lagi mitos. Saya rasa itu juga yang menyebabkan dunia lebih suka perang kecil-kecilan daripada perang berjamaah. 

Perang adalah kejahatan umat manusia yang dimaklumi dan pada akhirnya dimaafkan.

Jika perang dunia ke 3 ini membesar, ada satu pertanyaan yang muncul di kepala saya. Bahwa apakah peradaban akan tetap ada atau bisa hidup untuk memulai chapter yang baru. Yaitu perang dunia ke 4


Friday, January 2, 2026

2/365 「今度は今度。今は今。」

 2 Januari 2026

「今度は今度。今は今。」

Beberapa hari yang lalu, saat scrolling IG Reels, lewat sebuah video yang menarik perhatian saya. Video berbahasa Jepang yang sumbernya dari film jepang yang berjudul Perfect Days (2023), yang intinya mengatakan bahwa, nanti ya nanti, sekarang ya sekarang.

Saya memaknai itu bukan seolah-olah kita tidak perlu memikirkan masa depan. Tapi lebih tepatnya untuk tidak hidup di masa depan dan menikmati momen yang sekarang sedang berlangsung.

Saya termasuk orang yang ambisius, meskipun itu kadang positif. Tapi sering saya melupakan esensi dari kehidupan. Saya terlalu khawatir tentang apa yang akan terjadi di masa depan.

Saat saya baru mulai belajar bermain saham, tidak hentinya saya membuka HP dan mengecek pergerakan dari saham yang saya beli. Tak jarang juga gelisah khawatir apakah keputusan untuk membeli saham tersebut benar atau salah.

Di video yang lain. Ada dua orang laki-laki yang sedang menunggu bus. Yang satunya terlihat sangat gelisah dan panik karena bus yang ditunggu tidak kunjung datang, yang satu lagi terlihat santai.

Si A pun bertanya kepada si B, kenapa dia terlihat tidak peduli. Lalu dia berkata "bagaimapun reaksiku, bus nya tidak akan datang lebih cepat, aku juga ingin bus itu segera datang, tapi aku tahu tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu. Jadi apa yang terjadi, terjadilah."

Dua video berbeda tapi memiliki pesan yang sama. Jangan terlalu ambil pusing dengan apa yang akan terjadi. Selama kita berhati-hati dan berusaha, apapun hasilnya, jika kita tidak bisa kontrol. Lepaskanlah dari pikiran.

Mudah dikatakan, tapi sulit dilakukan. Meskipun begitu, mungkin kita hanya perlu latihan...


Thursday, January 1, 2026

1/365 (Buang Buang Waktu)

1 Januari 2026

Hampir setiap tanggal 31 Desember saya berdiam menantikan detik detik tahun baru dan bersiap menyambut hari pertama di tahun baru dengan berbagai macam rencana rencana atau resolusi. Juga dengan evaluasi tentang apa saja yang saya lakukan dalam waktu satu tahun,

Tapi hari kemaren berbeda, tepat jam 10 malam atau dua jam sebelum pergantian tahun, saya menghabiskannya dengan private bahasa jepang, tepat di pertemuan yang ke 131.

Ya, di 2025 mungkin hal yang paling saya banggakan adalah satu tahun penuh memulai lagi belajar bahasa jepang yang sebelumnya sempat saya lakukan di 2016 dan berhenti di 2017 saat pindah ke Turki.

Tidak seperti 1 Januari yang biasanya dimana saya akan melakukan ceklis pada semua resolusi. Saya menjalani hari pertama di 2026 dengan rileks. 

Saya menemui sebuah dilema apakah harus menjalani tahun ini dengan buku agenda, mencatat semua pengeluaran... atau HIDUP.

Saya yakin tentunya susah untuk menghentikan kebiasaan yang bahkan menurut saya itu positif ketika kita sudah merasa auto pilot dengan kebiasaan itu. Tapi saya akan melihat, bagaimana tahun ini akan berjalan. 

Tahun lalu menurut saya tidak buruk. Tapi di 2026, saya akan genap berusia 30 tahun. Tentunya sudah tidak ada lagi hal seperti buang buang waktu.

Wednesday, December 10, 2025

This too shall pass...


Secangkir kopi di pagi hari, sering bikin perut mulas. Ternyata karena memang kopi punya kandungan yang bikin kita jadi ingin berak.

Kalau ada meeting atau presentasi penting di hari, janganlah minum kopi kecuali kalau ada waktu untuk berak. Karena faktanya, rasa gugup pun bikin ingin berak.

Tapi ini bukan tentang berak, ini tentang anxiety... Lalu apa hubungannya berak dengan anxiety atau kecemasan? Faktanya, kecemasan pun bikin ingin berak.

Tapi ini bukan tentang berak... Oh iya tadi sudah ya.

Apa yang membuat kita khawatir, gugup, cemas? Ketidakpastian. Apa yang menyebabkan ketidakpastian? tentunya bukan berak... walaupun berak juga tidak selalu pasti jadwalnya. Kadang-kadang jam 10 pagi, kadang-kadang jam 8.15.

Manusia yang hidupnya susah sejak kecil akan lebih membenci ketidakpastian. Ketakutan dari ketidakpastian, itulah yang dinamakan kecemasan atau anxiety.

Tapi seberapa sering kecemasan berlebihan itu terjadi? 80 persen? 90 persen? Setidaknya dalam hidup saya, 95 persen hal yang saya cemaskan itu tidak terjadi. 

Bahkan kalaupun terjadi, ya sudah... this too shall pass. Jadi berhentilah hidup di masa depan, hiduplah di hari ini, jam ini, menit ini, detik ini, berak ini...

Setiap kesulitan yang kita hadapi pasti akan berlalu. Lalu kehidupan kita menyesuaikan dengan apa yang telah terjadi.

Itu...

Wednesday, November 13, 2024

Kisah Si Kelinci dan Babi Goreng

Pada hari Senin kuturut Kelinci ke kota, naik delman yang cicilannya belum lunas. 

Tidak banyak yang hari itu bisa kulakukan.

"Nci, kumaha damang?" kataku yang bukan orang Sunda.

"Mein Führer, sejak tiga tahun belakangan banyak orang-orang yang bertransmigrasi ke pulau Kalimantan"

Ya, itulah aku sebenarnya. Kanselir Jerman. Tepat tiga tahun belakangan banyak orang-orang yang bertransmigrasi ke pulau Kalimantan.

"Berapa tinggimu?" tanya si Babi Goreng.

"172 cm kalau pakai sepatu Nike P-6000"

"Jangan banyak Cerita, Pendek!"

Tamat.


*this story is just some BS i wrote as a joke with my friend, but i am going to keep it here

Sunday, November 3, 2024

Masih Dalam Pencarian...




Belasan tahun yang lalu, saya melihat sebuah iklan rokok yang membahas soal pencarian jati diri. Tapi bukan iklan, juga bukan rokok yang ingin saya bahas. Melainkan, dua kata terakhir dari kalimat awal 'jati diri'.

Tahun ini saya berusia 28 tahun. Sebuah angka yang bisa sangat multitafsir. Untuk orang Indonesia, saya sudah masuk di usia matang, sedangkan kalau di Eropa atau Asia Timur, saya masih terhitung cukup muda.

Di usia saya yang sekarang, saya bekerja sebagai regional sales manager untuk perusahaan Belanda. Wilayah tugas saya mencakup Asia Tenggara, tapi tidak menutup kemungkinan untuk ekspansi ke wilayah Asia lainnya seperti Asia Timur.

Bidang pekerjaan yang sudah saya geluti selama tujuh tahun lebih jika dihitung hingga hari saya menulis tulisan ini. 

Dua minggu setelah acara wisuda, saya terbang ke Istanbul untuk memulai hari dimana saya akan berpijak diatas kaki saya sendiri. Saya mungkin termasuk orang yang beruntung, karna saya sudah mendapatkan pekerjaan bahkan sebelum  diwisuda.

Tapi jika saya melihat kebelakang, apa yang saya anggap keberuntungan, mungkin saja... tidak.

Suatu hari di 2016, saya ingat betul, ketika itu dosen tidak masuk dan hari itu tidak ada lagi jadwal kuliah, saya pulang dan memilih untuk rebahan, sambil berbaring, isi kepala saya dipenuhi ambisi dan semangat untuk segera menyelesaikan kuliah dan meninggalkan kampung halaman.

Di tahun yang sama, seorang kawan sejak kanak-kanak pulang ke Padang karna libur kuliah, seorang kawan yang saya akui kepintarannya melebihi saya, dia seorang mahasiswa Universitas Indonesia.

Kami duduk diatas bebatuan di pinggir pantai sedikit bernostalgia soal masa kecil, ketika matahari mulai terbenam saya berujar "tahun depan saya akan tinggal di luar negeri". Satu kalimat yang saya katakan penuh dengan keyakinan dan setahun kemudian... berhasil saya buktikan.

Saya memulai karir pertama kali di usia 21 tahun, bekerja di bidang pemasaran untuk skala internasional. Saya bekerja sesuai dengan jurusan ketika kuliah. Ini mungkin bisa saya anggap sebagai keberuntungan, tapi dibalik itu semua, ada harga yang harus saya bayarkan, yaitu... kesehatan mental.

Berhasil mendapatkan apa yang kita inginkan, tidak serta merta memberikan kita kebahagiaan. Itulah yang sekarang mulai saya pahami. 

Hal yang membuat saya bisa berada di posisi sekarang adalah karna saya orang yang ambisius. Bahkan sejak SD saya sudah sangat kompetitif. Saya selalu berusaha untuk jadi lebih baik dari orang lain. Saya tidak berhenti membuat target dan mengejarnya. Beberapa bisa saya capai, tapi ada juga yang gagal.

Memaksakan diri merantau di usia yang sangat muda ke kota yang dulu bernama Konstantinopel sendirian untuk memulai karir, saya merasa jahat pada diri sendiri, karna saya terpaksa harus menjadi dewasa sebelum waktunya.

Hal yang dulu saya kejar, yang saya pikir akan membuat saya bahagia ternyata hanya memberikan kekosongan dan kesenangan yang semu. 

Saya tentunya bersyukur dengan apa yang saya dapatkan. Bukan nasib baik, melainkan pelajaran hidup selama tujuh tahun belakangan, itulah yang paling saya syukuri. 

Menjadi dewasa artinya melakukan apa yang harus kita lakukan walaupun kita tidak menyukainya, Menerima kenyataan demi kenyataan dengan lapang dada.

Katanya selepas remaja, manusia akan mulai mencari jati dirinya. Tapi saya rasa, kata 'mencari' itu tidak tepat. Karna jati diri itu harusnya bukan 'dicari' tapi 'ditemukan', dan sampai saat ini saya masih belum menemukannya.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...